

Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar mengejar nilai dan prestasi, tetapi proses memanusiakan manusia. Namun, pendidikan hari ini terkadang terlalu sibuk dengan angka, target, kurikulum, dan tuntutan administratif. Akibatnya, sisi kemanusiaan peserta didik dapat terabaikan.
Setiap anak adalah pribadi yang unik. Mereka datang ke sekolah dengan latar belakang, persoalan, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Ada yang menghadapi masalah keluarga, tekanan pertemanan, kehilangan kepercayaan diri, bahkan bullying. Karena itu, mereka membutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu mendengar, memahami, dan memberikan keteladanan.
Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, sentuhan manusia justru semakin penting. Teknologi dapat memberikan informasi dengan cepat, tetapi tidak dapat menggantikan empati, kepedulian, kasih sayang, dan keteladanan seorang guru.
Pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat. Sekolah bukan hanya tempat mencetak siswa berprestasi, tetapi juga tempat menumbuhkan karakter, kejujuran, kepedulian, dan kematangan diri.
Jangan sampai kita berhasil menciptakan generasi yang pintar, tetapi lupa membentuk manusia yang peduli. Sebab pendidikan yang kehilangan sentuhan kemanusiaan mungkin menghasilkan manusia berpendidikan, tetapi belum tentu manusia yang terdidik.
Dr. Junaidi, M.Pd.I, Pemerhati Pendidikan dan Konseling Islam