

Kita semua adalah perantau. Dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal selamanya. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan kelak pergi tanpa membawa harta, jabatan, maupun popularitas.
Namun, banyak manusia yang lupa bahwa dirinya sedang dalam perjalanan. Terlalu sibuk membangun kehidupan di dunia, hingga lupa mempersiapkan kehidupan setelahnya.
Kita mengejar rumah yang besar, tetapi lupa membangun rumah di akhirat. Kita menghitung kekayaan, tetapi lupa menghitung amal. Kita takut kehilangan dunia, tetapi jarang takut kehilangan arah menuju Allah.
Inilah perantau yang tersesat: bukan kehilangan jalan di dunia, tetapi kehilangan tujuan hidup.
Allah mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya (QS. Al-‘Ankabut: 64).
Maka, selama perjalanan masih berlangsung, selalu ada kesempatan untuk kembali. Bukan kembali ke tempat kita dilahirkan, tetapi kembali kepada Allah.
Sebab pada akhirnya, setiap perantau akan pulang. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan pulang itu?